Hosting Gratis

Selasa, 07 September 2010

saya tidak mau ampunan

Beberapa tahun yang lalu, ketika itu aku sedang duduk dengan seorang temanku dan dia mulai bercerita mengenai perjuangannya memakai hijab( jilbab tapi yang dimaksud disini adalah niqob/cadar -pen) setelah dia menjadi seorang muslim. Dia tumbuh besar menjadi seorang penganut agama kristen dan kemudian menerima islam ketika dia berada di perguruan tinggi. "Bagiku, hijab merupakan hal yang terberat". dia berkata."aku tidak ingin memakainya, jadi aku membuat alasan apapun yang bisa kulakukan. 'ini terlalu panas'. 'aku tidak dapat bernafas'. ". dia mengelengkan kepalanya, mengingat hal tersebut."tapi hal yang lucu adalah, aku tidak menyadari bahwa aku tidak ingin memakainya. "hingga suatu hari aku berbincang dengan beberapa saudari seiman muslim dan kemudian aku pun membuat alasan yang sama. dan saudariku mulai meyakinkanku, tapi untuk setiap yang mereka katakan, aku punya jawabannya. kita selalu kembali lagi dan seterusnya. tetapi kemudian seorang saudari berkata sesuatu yang membuatku terdiam. "dia berhenti". 'berdo'alah!'. memohonlah agar diberi kemudahan kepada Alloh'."matanya membesar". "ketika dia berkata itu, aku tidak tahu harus berkata apa. di dalam pikiranku, aku tahu jika aku meminta pertolongan Alloh, aku akan dapat memakai hijab. dan hal tersebut menyadariku bahwa aku tidak benar-benar menginginkan berhijab. aku bahkan sama sekali tidak meminta Alloh membantuku. karena aku pun tidak menginginkannya (memakai hijab)"

ketika aku mendengar cerita seperti ini, aku berpikir dalam mengenai hati manusia. aku memikirkan bagaimana kita berpikir kita mengetahui dirikita sendiri dan niat kita. tapi, kita benar-benar tidak mengetahuinya. untuk setiap dari kita, pasti ada sesuatu yang kita tahu kita ingin berubah tapi kita tidak akan... hal ini tentu tidak hanya dalam masalah hijab, tapi juga untuk tidak mendirikan sholat secara teratur, menonton TV atau film yang tidak pantas, ikhtilat, mempunyai "pacar"...dan untuk setiap hal tersebut, kita mempunyai jawaban yang cocok, jika kita mau merasa repot kita bisa membuat alasan untuk semuanya. Tapi di bulan ramadahan ini, banyak hal-hal yang "tidak menyenangkan" muncul ke permukaan dan hati yang terdalam dari diri kita terekspos. ya walaupun masih banyak dari kita yang tidak taat kepada Alloh. dengan berbagai alasan...tidak ada gunanya menggunakan hijab ketika ramadhan jika kita tahu kita akan melepaskannya saat ramadhan usai...aku tidak mau menjadi seorang munafik..aku tahu diriku, dan aku belum siap merubah hidupku...tapi dari setiap alasan, ada satu komponen kunci yang hilang. Alloh.bukan berarti namaNya tidak ada. untuk dari kebanyakan dari kita, sebenarnya nama Alloh kita gunakan untuk membenarkan kesalahan kita. Alloh maha pengampun, Alloh mengetahui hati kita, Alloh hakimku...dan kesukaanku, saat aku berubah, aku melakukannya karena Alloh, bukan karena orang lain yang menyuruhku...

Alloh berfirman: Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, dan bertakwa .....(2:224)

ketika kita menyalahkan Alloh atas dosa kita, kita meyalahakan kelemahan kita sebagai manusia. dan hal itu benar. manusia itu lemah. tapi sebenarnya adalah hal itu tidak menjadi kelemahan utama. tetapi kelemahan manusia adalah untuk mereka yang memiliki iman yang tinggi. sedang yang memiliki iman yang lemah, kelemahan utama mereka adalah penyakit hati. seorang muslim yang memiliki iman yang tinggi secara konstan (istiqomah) melakukan hal-hal benar, tapi karena kelemahan manusia mereka akan kalah. tetapi energi mereka dihabiskan untuk berjuang melawan dosa. sedangkan seorang muslim yang lemah bahkan tidak repot-repot berjuang. mereka sudah cukup nyaman dalam kehidupan mereka dari dosa. menghabiskan energi mereka membela dosa mereka, tidak melawan itu ... saya tidak mau ampunan.. Saya tidak ingin mengubahnya. Saya menyukai kesalahan yang saya lakukan ...


hal ini yang membuatku jengkel,sebaliknya, kita hanya berdoa, agar Alloh memudahkan kita melakukan yang benar, walaupun suatu saat kita kalah. tapi itu dimulai dengan menginginkan perubahan, dan hal ini bukanlah hal yang mudah bagi hati manusia, terutama bagi kita yang memiliki keimanan yang lemah dan hidup penuh dosa. uhm..semua akan di maafkan selama bulan ramadhan, kecuali bagi mereka yang tidak menginginkan untuk diampuni. dan siapa yang tidak ingin diampuni? mereka yang tidak memintanya...


Bulan Ramadhan, lebih dari apapun, sebuah bulan penuh kesempatan. ini adalah waktu untuk mengatur hal yang salah menjadi hal yang benar. ini merupakan waktu yang terbaik untuk berubah tentunya, bahkan saat Anda tidak tahu bagaimana Anda akan berjalan di jalan baru tersebut. ini waktunya meminta perubahan, memohon untuk perubahan, menangis untuk itu-walaupun sebagian dari diri anda tidak menginginkannya. dan tak mengapa jika anda tidak tahu caranya memakai hijab, sholat secara teratur, mematikan televisi, atau tingggal sendiri tanpa ditemani pria "yang tampan" atau wanita "yang cantik". itu tidaklah mengapa, karena itu bukan anda yang akan melakukannya, anda telah meminta pertolongan, itu Alloh yang akan melakukannya. dan Alloh mampu untuk melakukan semuanya. mari kita ingat pula bahwa Alloh maha-pengampun. tetapi, tentu saja, untuk mendapatkan ampunan dari Alloh, yang pertama adalah kita benar-benar menginginkannya. dan meminta ampunan tidak hanya dengan mengucapkan kita menginginkan ampunan, atau hanya komat-kamit dalam berdo'a. itu artinya kita menyesali dosa kita. dan berarti kita membenci dosa kita. dan berarti kita berusaha untuk menghindarinya. dan kita tidak pernah menyerah untuk berjuang melawannya, itu artinya bahwa kita menginginkan ampunan Alloh. itulah yang kita inginkan dan kita mohonkan, jadi kita teliti kehidupan dan hati kita, dan tanyakan pada dirikita sendiri sebuah pertanyaan sederhana. Apakah kamu menginginkan ampunan? jika jawaban kita adalah iya, kita tahu siapa tempat kita meminta pertolongan dan petunjuk. jika jawaban kita tidak...uhm, tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali apa yang biasa kita lakukan.

Umm Zakiyah adalah penulis internasional dari novel seperti If I Should Speak trilogy ( If I Should Speak,A Voice: the Sequel to If I Should Speak,dan Footsteps ) dan Realities of Submission.

nb:

ini merupakan terjemahan bebas dari note yang saya baca di

[http://www.facebook.com/note.php?note_id=447327067648&id=1309501149&ref=mf]..jadi ya terjemah ala kadarnya jadinya :p

semoga menjadi ibroh (pelajaran) bagi kita yang masih berat menjalankan perintah Alloh subhanallahu wa ta'ala baik dari Al-qur'an maupun sunnah Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam, semoga Alloh memudahkan kita..

amiin

[Tambun - 29 romadhon 1431 H - 8 september 2010 - 2:56 pm Wib ]

1 komentar:

  1. kaka,,gambar-gambarnya bunga aja,,hehe tapi bunganya cantik..kaya kaka,,eh salah de kaya saya hahahahahhahahaha canda,,

    BalasHapus